by

Angka Buta Huruf di Indonesia Masih Tinggi

-Edukasi-1492 Views

By Zahra

  • Angka buta huruf tahun 2019 sebanyak 3.081.136 jiwa.
  • Angka buta huruf tahun 2020 sebanyak 2.961.060 jiwa.
  • Jawa Timur: 800.000
  • Papua: 500.000
  • Jawa Tengah: 400.000
  • Nusa Tenggara Barat: 200.000
  • Nusa Tenggara Timur: 100.000

MOBERITA.COM – Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyatakan bahwa hampir 3,0 juta masyarakat di Indonesia masih buta aksara.

Jawa Timur dan Jawa Tengah menjadi daerah yang masuk dalam lima besar wilayah dengan tingkat buta aksara tertinggi di Indonesia. Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Dasar dan Menengah (PAUD Dikdasmen) Jumeri menjelaskan, pada 2019 sebanyak 3.081.136 jiwa masih buta aksara. Kemudian, angkanya menurun pada 2020 menjadi 2.961.060 jiwa.

Khusus di Jawa Timur, ungkap Jumeri, masih ada 800 ribu orang yang masih buta aksara. Berdasarkan data terakhir Kemendikbudristek, lima besar provinsi dengan tingkat buta aksara tertinggi secara berurutan, yaitu Jatim, Papua, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Ada sekitar 800 ribu orang buta aksara di Jatim, 500 ribu di Papua, 400 ribu lebih di Jateng, dan 200 ribu lebih di NTB maupun Sulsel.

Jumeri menyatakan, wilayah lain yang angka buta aksara masih di atas 100 ribu orang adalah Nusa Tengara Timur dan Kalimantan Barat. Daerah lain, seperti Banten dan Bali sudah di bawah 100 ribu penduduk yang buta aksara.

Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Samto mengemukakan bahwa penyandang buta aksara tertinggi ada pada kelompok usia 44 tahun ke atas. Ada beberapa kendala dalam mengurangi angka buta aksara ini.

“Memang kendala dalam tahun ini, kita tahun ini hanya turun dari 1,78 persen menjadi 1,71 persen, hanya sedikit. Memang semua terkendala dalam proses pembelajaran, baik pendidikan keaksaraan maupun pendidikan umum,” jelas Samto.

BACA Juga  Prodi yang Butuh Kompetensi Teknis Diutamakan PTM di Kampus

Persentase angka buta aksara di Jatim dan Jateng, menurut Samto, memang kecil. Akan tetapi, dari sisi jumlah, relatif cukup besar mengingat dua provinsi itu merupakan wilayah padat penduduk. “Kita akan komunikasikan dengan pemda. Juga bagaimana daerah lain yang tingkat buta aksaranya masih tinggi itu betul-betul memusatkan perhatian,” ujarnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed